Thursday, April 13, 2017

Pengaruh Kenampakan Alam terhadap Keragaman Sosial Budaya

Pengaruh Kenampakan Alam terhadap Keragaman Sosial Budaya - Keadaan alam di suatu daerah dapat memengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Misalnya, kehidupan masyarakat di daerah pegunungan akan berbeda dengan kebiasaan masyarakat di daerah pantai. Masyarakat tradisional di daerah masih bergantung pada alam terutama di daerah terpencil seperti pedalaman Kalimantan, Sumatra, dan Irian Jaya. Semakin terpencil dan jauh dari perkotaan, maka semakin kuat pengaruh alam terhadap kehidupan masyarakat.

source img :  http://www.himmaba.com/

Kebudaayan Masyarakat juga dibentuk oleh kondisi alam. Misalnya kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan animisme yaitu kepercaayan kepada roh roh yang mendiami semua benda seperti pohon, sungai, gunung, batu, dan benda benda lainnya. Mereka juga mempercayai bahwa gejala alam merupakan kekuatan yang perlu disembah. Kepercayaan dinamisme yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau  kegagalan usaha manusia.

Contoh kepercayaan animisme dan dinamisme, misalnya Gunung Tidar di Jawa Tengah dipercaya sebagai "paku" yang menjadi pasa pulau Jawa. Selain itu, sepanjang pantai selatan Laut Jawa dipercaya sebagai wilayah kerajaan Nyai Roro Kidul. Hingga kini mitos ini masih berakar kuat pada sebagian masyarakat indonesia.

Orang yang bermukim di pegunungan sebagian besar hidup dengan bercocok tanam. Karena lereng gunung curam, beberapa petani membuat sistem ladang bertingkat untuk bercocok tanam. Bentuknya tersusun seperti anak tangga yang besar di lereng gunung. Beberapa petani masih melakukan kebiasaaan membuat sesaji terlebih dahulu sebelum menanam tanaman, Suhu udara pegunungan yang cukup dingin membuat orang orang pegunungan berpakaian tertutup dan tebal. Kebudayaan dan adat istiadat masyarakatnya juga dipengaruhi oleh keadaan alamnya.

Seperti penduduk yang bermukim di pegunungan Tengger, Jawa Timur, atau lebih dikenal dengan suku Tengger. Di kawasan Pengunungan Tengger terdapat Gunung Bromo yang dianggap suci oleh suku Tengger. Setiap tahun suku Tengger selalu mengadakan upacara kesodo di kawah Gunung bromo. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger. Orang orang tengger biasa meneylimuti tubuhnya dengan baju hangan dan menggunakan tutup kepala untuk menghindari udara dingin pegunungan.

Masyarakat pantai memiliki kebiasaan yang berbeda dengan orang gunung. Masyarakat pantai hidup dari hasil laut. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan. Sehari hari mereka mencari ikan di laut. Ada juga yang membuat aneka kerajinan dari kerang kerang laut. Hasilnya dijual kepada pengunjung yang berwisata ke pantai.

Sebagian masyarakat pantai masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kebudayaan dan adat istiadat nenek moyang masih dilakukan secara rutin. Misalnya para nelayan mempersembahkan sesaji untuk dewa laut sebelum mencari ikan. Di beberapa daerah pantai di Indonesia, masyarakatnya menggelar upacara adat pada waktu waktu tertentu.

Seperti di Pantai Samas, Bantul, Yogyakarta. Setiap bulan suro pada kalender jawa diadakan ritual budaya labuhan jalanidhi. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan memohon agar nelayan diberi limpahan hasil laut. Dalam upacara ini, berbagai macam sesaji diarak dan kemudian dilarung kelaut. Untuk memeriahkan acara, kesenian tari gambyong dan campur sari turut ditampilkan. Warga masyarakat pun sangat antusias menyaksikan dan mengikuti jalannya upacara tersebut.

Kehidupan masyarakat di daerah sungai juga memiliki keunikan tersendiri. Indonesia memiliki daerah aliran sungai yang cukup banyak, terutama di Pulau Kalimantan. Sungai sangat penting artinya bagi masyarakat, selain sebagai sumber air juga untuk sarana transportasi hingga ke pedalaman. Kayu hasil hutan di pedalaman diangkut melalui sungai untuk dijual ke daerah lain atau diekspor.

Di Kalimantan dapat kita jumpai perkampungan perkampungan yang dibangun di atas air. Seperti yang terdapat di Pontianak, Kalimantan Barat Perumahan didirikan di atas air dengan penyangga dipancangkan ke dasar sungai. Disungai Martapura Kalimantan Selatan dijumpai rumah lanting, yaitu rumah terapung dan juga pasar terapung

Kehidupan masyarakat pedalaman masih sangat bergantung pada alam. Sebagai contoh suku Asmat, masyarakat pedalaman Papua. Mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu, meramu, dan mengumpulkan hasil hutan. Hidupnya berpindah pindah di sekitar hutan sagu. Suku asmat juga mengembangkan kebudayaan kayu. yaitu kebiasaan membuat ukiran kayu.

source img : http://www.satujam.com/suku-asmat/

Pakaian yang dikenakan masih sangat sederhana, terbuat dari kulit kayu atau binatang. Orang pedalaman membangun rumah panggung untuk tempat tinggal. Rumah panggung dapat menghindari gangguan binatang buas yang masih banyak di temui di daerah pedalaman. Demikian juga di pedalaman kalimantan, bentuk rumah panggung banyak di jumpai.

Bentuk bentuk kebudayaan lain yang berkembang seperti pakaian adat, Tarian adat, senjata tradisional, seni pertunjukan, alat musik daerah, lagu daerah, dan makanan khas diyakini terbentuk dengan menyesuaikan pada keadaan alamnya. Secara garis besar dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa adat kebiasaan dan kebudayaan sangat tergantung dari jenis kenampakan alam yang ada di wilayah setempat.

Berbeda dengan kehidupan di daerah, kehidupan masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih beragam. Masyarakat perkotaan sangat heterogen, yaitu terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, dan golongan. Untuk melangsungkan kehidupannya, mereka tidak mengandalkan alam tetapi lebih pada keterampilan, keahlian dan kemampuan masing masing.

Masyarakat di perkotaan jarang melaksanakan upacara adat karena mereka terdiri dari suku bangsa yang berbeda dan memliki adat kebiasaan yang berbeda pula.Masyarkat perkotaan menjalankan kehidupan beragama yang dianutnya. Perekonomian digerakkan oleh berbagai macam kegiatan usaha jasa, keahlian dan perdagangan.